Maulid Adat Warga Dusun Semokan, Bayan, Lombok Utara

Tanggal 17 Januari 2014 kami mengunjungi salah satu tempat diadakannya Acara Maulid Adat di Bayan, yaitu Dusun Semokan, Desa Sukadana, Kabupaten Lombok Utara. Perjalanan menuju Desa Sukadana dari Kota Mataram menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan bermotor. Sesampainya di Desa Sukadana, untuk menuju Dusun Semokan kami harus melewati jalan tanah penuh dengan batu-batu lepas. Medan di jalan ini membuat kami harus mengeluarkan kemampuan joki kami yang sesungguhnya.

Sampai di tempat kami memarkir kendaraan kami, kamipun masih harus berjalan kaki menuju hutan adat, dimana di sanalah letak “Kampu”, yaitu pusat diadakannya acara. Kampu sendiri luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi, dengan beberapa bangunan di dalamnya termasuk Masjid Kuno. Dalam perjalanan kami melihat anak-anak kecil yang sedang bermain di sekitar hutan. Pemandangan yang eksotis menurut kami karena jenis pakaian mereka seragam.

MG_8519
MG_8639

Sesampainya di lokasi, kami mendapat informasi bahwa untuk mengikuti seluruh rangkaian acara kami sudah terlambat. Acara sudah dimulai sejak kemarin. Alangkah sedihnya karena kami melewati beberapa ritual seperti tumbuk beras, cuci beras, dan peresean. Meskipun begitu, kami tetap mendokumentasikan kegiatan hari itu.

maulid adat bayan
MG_8543
MG_8627
MG_8648

Pada hari itu, kami menyaksikan prosesi merembun atau mengumpulkan. Satu-persatu masyarakat Semokan membawa hasil bumi baik berupa beras ataupun ternak. Warga yang membawa hasil bumi ke Kampu membawa hasil buminya dengan sukarela tanpa paksaan. Hal ini karena mereka sudah meniatkan hal tersebut dari awal. Prosesi Maulid Adat merupakan moment yang paling ditunggu oleh Warga Dusun Semokan.

Ada banyak sekali hasil bumi yang terkumpul saat itu yaitu kerbau 2 ekor, kambing 44 ekor, dan ayam 2 ekor. Para tetua adat bertugas memotong hewan ternak tersebut, laki-laki dewasa menguliti hewan yang sudah dipotong, anak-anak membakar kambing yang tidak dikuliti, dan ibu-ibu mulai menanak nasi. Takjubnya kami melihat semua itu nyaris tanpa komando. Semua berjalan serempak. Setiap orang seperti sudah mengerti apa yang harus mereka kerjakan tanpa harus diarahkan. Sungguh semua seperti terorganisir oleh insting, berpadu dengan rasa sukacita dan tanggung jawab.

MG_8665

MG_8530

Tinggalkan komentar